KadZoo
"...Take time to THINK. It is the source of POWER..."
Total Tayangan Halaman
Kamis, 04 Agustus 2011
UMBUL PENGGING, BOYOLALI
PEMANDIAN UMBUL PENGGING (Tirto Marto) : Terletak di Kec. Banyudono, 12 km dari kota Boyolali. Pemandian ini dahulu digunakan oleh Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono X beserta kerabatnya. Ada tiga buah pemandian, antara lain Pemandian Umbul Manten, Pemandian Umbul Ngabean, Pemandian Umbul Dudo.
Umbul Pengging yang berada di Desa Dukuh Kecamatan Banyudono Boyolali, menurut berbagai sumber cerita merupakan peninggalan Ki Ageng Pengging ketika zaman peralihan kerajaan Majapahit pada Kerajaan Demak lantas dibangun oleh Keraton Surakarta. Penggunaannya pun dikhususkan untuk Raja dan kerabat kasunanan Surakarta.
Pada dasaranya sejarah berdirinya Pengging terdiri dari beberapa versi dalam suatu versi menceritakan bahwa Pengging pada jaman dahulu dibangun oleh Prabu Kusumawicitra tahun 1026M. Versi lainnya tercantum dalam serat babad yang menceritakan tokoh yang berasal dari Pengging bernama Adipati Andayaningrat yang merupakan raja kecil atau adipati yang menguasai wilayah sebelah selatan dan tenggara kawasan gunung Merapi, akan tetapi akhirnya Handayaningrat gugur dalam pertempuran saat melawan kerajaan Demak.
Ki Ageng Pengging
Pada dasaranya sejarah berdirinya Pengging terdiri dari beberapa versi dalam suatu versi menceritakan bahwa Pengging pada jaman dahulu dibangun oleh Prabu Kusumawicitra tahun 1026M. Versi lainnya tercantum dalam serat babad yang menceritakan tokoh yang berasal dari Pengging bernama Adipati Andayaningrat yang merupakan raja kecil atau adipati yang menguasai wilayah sebelah selatan dan tenggara kawasan gunung Merapi, akan tetapi akhirnya Handayaningrat gugur dalam pertempuran saat melawan kerajaan Demak.
Ki Ageng Pengging
S E L A M A T
Engkau tak akan menghadapi suatu masalah
Yang tak disertai dengan kesempatan
Jika engkau terus menunggu untuk saat yang tepat
Bisa jadi engkau tak akan pernah memulainya
Mulailah sekarang
Mulailah dimana kau berada dengan apa yang ada
Ketika nasib menutup pintu
Maka masuklah melalui jendela
Jika engkau melakukan yang terbaik
Engkau tak memiliki waktu lagi untuk khawatir kegagalan
Sukses dalam berbisnis adalah seperti mengendarai sepeda
Engkau terus melaju atau engkau jatuh
Teruslah maju !!!!
Manusia dapat dibagi menjadi 3 kelompok
Mereka yang membuat sesuatu terjadi
Mereka yang melihat sesuatu terjadi
Mereka yang menunggu sesuatu terjadi
Selamat !!!!
Atas keberhasilan Anda menjadi kapten kelompok pertama
Selasa, 01 Februari 2011
Jumat, 28 Januari 2011
Mencari Sebuah Masjid
oleh Taufik Ismail
Aku diberitahu tentang sebuah masjid, yang tiang-tiangnya dari pepohon di hutan, fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat bersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan, dihiasi dengan ukiran kaligrafi Qur'an dengan warna platina dan keemasan bentuk daun-daunan sangat teratur serta sarang lebah demikian geometriknya ranting dan tunas berjalin bergaris-garis gambar putaran angin Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon dan menyeru azan tak habis-habisnya membuat lingkaran mengikat pinggang dunia kemudian nadanya yang lepas-lepas disulam malaikat jadi renda benang emas yang memperindah ratusan juta sajadah di setiap rumah tempatnya singgah, Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya dimana bila waktu azan lohor engkau masuk kedalamnya engkau berjalan sampai waktu ashar, tak kan capai saf pertama sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini yang besar luar biasa Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang ruangan disisi mihrabnya yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya, di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari, kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu berguna di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta terletak disebelah menyebelah masjid kita Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian dan kalaupun ada pertikaian bisalah diuraikan dalam simpul persaudaraan sejati dalam hangat sajadah yang itu juga terbentang di sebuah masjid yang sama Tumpas aku dalam rindu. Mengembara mencarinya Dimanakah dia gerangan letaknya?
Pada suatu hari aku mengikuti matahari ketika dipuncak tergelincir sempat lewat seperempat kwadran turun ke barat dan terdengar merdunya azan di pegunungan, dan akupun melayangkan pandangan mencari masjid itu kekiri dan kekanan, ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan, dia berkata "Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan" dia menunjuk tanah ladang itu dan di atas lahan pertanian dia bentangkan secarik tikar pandan kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran airnya bening dan dingin mengalir teraturan, tanpa kata dia berwudlu duluan. Akupun di bawah air itu menampungkan tangan, ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan, hangat air yang terasa bukan dingin
oleh Taufik Ismail
Aku diberitahu tentang sebuah masjid, yang tiang-tiangnya dari pepohon di hutan, fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat bersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan, dihiasi dengan ukiran kaligrafi Qur'an dengan warna platina dan keemasan bentuk daun-daunan sangat teratur serta sarang lebah demikian geometriknya ranting dan tunas berjalin bergaris-garis gambar putaran angin Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon dan menyeru azan tak habis-habisnya membuat lingkaran mengikat pinggang dunia kemudian nadanya yang lepas-lepas disulam malaikat jadi renda benang emas yang memperindah ratusan juta sajadah di setiap rumah tempatnya singgah, Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya dimana bila waktu azan lohor engkau masuk kedalamnya engkau berjalan sampai waktu ashar, tak kan capai saf pertama sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini yang besar luar biasa Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang ruangan disisi mihrabnya yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya, di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari, kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu berguna di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta terletak disebelah menyebelah masjid kita Aku rindu dan mengembara mencarinya.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian dan kalaupun ada pertikaian bisalah diuraikan dalam simpul persaudaraan sejati dalam hangat sajadah yang itu juga terbentang di sebuah masjid yang sama Tumpas aku dalam rindu. Mengembara mencarinya Dimanakah dia gerangan letaknya?
Pada suatu hari aku mengikuti matahari ketika dipuncak tergelincir sempat lewat seperempat kwadran turun ke barat dan terdengar merdunya azan di pegunungan, dan akupun melayangkan pandangan mencari masjid itu kekiri dan kekanan, ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan, dia berkata "Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan" dia menunjuk tanah ladang itu dan di atas lahan pertanian dia bentangkan secarik tikar pandan kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran airnya bening dan dingin mengalir teraturan, tanpa kata dia berwudlu duluan. Akupun di bawah air itu menampungkan tangan, ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan, hangat air yang terasa bukan dingin
Langganan:
Postingan (Atom)






